Saturday the 18th - - Free Joomla 3.2 Templates

Perang ketupat

photo courtesy of @nata_bangka

Di Indonesia ini ada dua tradisi perang ketupat yang pernah kita dengar yaitu perang ketupat di Bali dan di Bangka. Tapi pada kesempatan ini kita tidak akan menceritakan tradisi seperti apa  yang diadakan di Bali, melainkan hanya akan mengulas tradisi yang di Bangka.

Menjelang malam tahun baru Islam (1 Muharam), Pulau Bangka khususnya warga Desa Tempilang rutin setiap tahun menggelar tradisi adat yang disebut Perang Ketupat. Orang-orang juga biasanya menyebut dengan “ruwahan tempilang”. Perang ketupat ini dapat dibilang pesta rakyat karena acaranya juga berasal dari sumbangan masyarakat setempat.

Perang Ketupat yang merupakan prosesi utama dari tradisi turun temurun ini diadakan dibibir pantai pasir kuning. Ketika pawang menyalakan meriam pertanda acara dimulai, orang-orang saling melempar ketupat ke setiap orang yang diikutsertakan. Acara ini cukup digemari oleh kaum muda di daerah Bangka. Banyak pemuda yang sengaja datang dari jauh, atau malah pulang dari perantauan untuk menghadiri acara ini.

Acara ini sebagai ungkapan rasa syukur dimana setiap rumah membuka pintu yang selebar-lebarnya dengan menyediakan penganan yang siap disantap oleh tamu yang berkunjung. Selain memelihara tradisi, kegiatan ini dapat mempererat silahturahmi. 

 

The Ketupat War is Not an Ordinary War

In Indonesia there are two traditions of Ketupat War we've heard that the Ketupat War in Bali and in Bangka. Ketupat is a type of dumplingmade from inside a diamond-shaped container of woven palmleaf pouch. But on this occasion we are not going to tell you what kind of tradition held in Bali, but will only review the tradition in Bangka Island.

Toward the Islamic New Year's Eve (1 Muharram), Bangka especially villagers held annually Tempilang indigenous tradition called Ketupat War. People also generally referred to as "ruwahan Tempilang". It can be considered a people’s party because the show is also from the local community donations.

Ketupat war which is the main procession of hereditary tradition held in the Pantai Kuning (yellow sand beach). When the handler lit cannon sign event starts. People were throwing a diamond to everyone included. This event is quite popular with young people in the region of Bangka. Many young people who had come from far away, or even home from overseas to attend this event.

This event as an expression of gratitude where every home opens the door wide open to provide some special food ready to eat by guests who visit. In addition to maintaining tradition, this activity can strengthen the friendship.