Saturday the 18th - - Free Joomla 3.2 Templates

febr

photo courtesy of @febr1kusuma

Saya yakin banyak dari penggemar musik tanah air yang belum tau alat musik bersenar yang satu ini. Iya namanya masih asing ditelinga masyarakat indonesia khususnya maupun dunia. Tapi bukan berati kita harus melupakannya bukan? Karena justru akan menambah kekayaan budaya bangsa.

Namanya Dambus. Jadi penasaran kenapa dinamakan dambus? Atau karena mirip-mirip dengan musik gambus ya. Mungkin saja! 

Alat musik ini awalnya diperkenalkan oleh para pedagang yang masuk melalui semenanjung Malaka yang kemudian mendarat di Bangka Belitung. Tidak heran, sedikit tidaknya masih terasa pengaruh dari sentuhan irama Melayu. Seiring dengan akulturasi dengan tradisi setempat, dambus kemudian disesuaikan dengan adat setempat. Begitu juga dengan material pembuatannya juga diperoleh dari kayu yang banyak tumbuh dihutan setempat.

Dambus biasanya terbuat dari kayu meranti atau kayu cempedak dan dipahat sehingga memiliki bentuk yang khas. Umumnya bagian kepala berbentuk seperti kepala kijang atau rusa yang merupakan binatang yang banyak sekali berkeliaran di hutan saat itu. Dambus awalnya terdiri dari 3 senar. Tapi seiring dengan perkembangan alat musik, senar dambus juga sudah menyesuaikan dan kebanyakan yang ada dipasaran sudah terdiri dari enam senar. Suara dambus memiliki alunan yang merdu dan nyaring.

Sama seperti alat musik lainnya, dambus biasanya dimainkan saat perayaan hari besar maupun hiburan masyarakat seperti acara perkawinan, syukuran, dan hajatan lainnya. Umumnya alunan musik ini sebagai pengiring tarian muda mudi untuk saling menghibur satu sama lain. Tarian ini dikenal dengan “Bedincak”.

Sekarang ini tarian yang diiringi dambus kembali dipopulerkan oleh masyarakat Bangka Belitung. Acara ini biasanya digelar sebagai penyambutan tamu, perkenalan budaya, ataupun agenda rutin pentas budaya lokal. Selain untuk memelihara warisan budaya yang luhur, tentunya diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan pariwisata lokal. Pada akhirnya suatu saat nanti dunia juga menghargai keberadaan dambus ini.

 

The Art of Musical Instrument “Dambus” almost forgotten

dambus1 dennysatar

photo courtesy of @dennysatar

I'm sure a lot of music fans who do not know this stringed one. Possibly its name is still unfamiliar ears Indonesian society and the world. But of course we should not forget about it? Because it will add to the diversity of the nation's culture.

Its name is Dambus. So why people named it Dambus? Or because it’s almost similar with something like the stringed musical instrument named Gambus. May be!

This instrument was originally introduced by traders who entered through the peninsula of Malaka and then visited Bangka Belitung. At least the effects of Malay’s rhythm is still felt. Due to acculturation with local traditions, dambus is adapted to local custom. So, material of manufacture is also obtained from the wood that grows in the forest Bangka Belitung.

Dambus usually is made of a single piece of meranti or jackfruit wood and carved become a distinctive shape. Formerly, the tuninghead was shaped like the head of a deer or elk because these animals roamed around in Bangka Belitung forest. Dambus originally was consisted of three strings. But along with the development of musical instruments, stringed dambus also had to adjust and now mostly in market it already consists of six strings. Dambus has a melodious strain and loud.

Just like other musical instruments, dambus usually is played during the festivities and public events such as weddings, cultural celebration, and other entertainments. Particularly the dambus music is played as a dance soundtrack for youth to entertain each other mutually. This dance is known as “bedincak”.

Now the dance with dambus has been re-popularized by Bangka Belitung community. This event is usually held as a welcome guest, cultural introduction, or the regular agenda of local cultural performances. In addition to maintaining the cultural heritage, of course, is expected to boost local tourism growth. At last one day the world also appreciate the existence of dambus.